Aman atau Nyaman, Dilema?

Oleh: Apul L. M. Pandiangan (Elektro UI)

Pada posting-an sebelumnya, saya sedikit berbicara tentang hacker. Bicara soal hacker tentu juga berhubungan dengan sistem keamanan di dunia maya. Fasilitas keamanan merupakan sesuatu yang wajib diperhatikan, karena berkaitan dengan kelangsungan berbagai fungsi dalam suatu jaringan komputer. Sehingga perlu selalu diperbaharui dan diperbaiki.

Namun, semakin tinggi tingkat keamanan yang diadopsi oleh suatu jaringan, maka semakin rumit pula akses bagi para pengguna. Hal tersebut dikarenakan semakin ketatnya autentikasi atau verifikasi yang akan ditampilkan kepada pengguna, semacam pada mail atau akun pertemanan. Hal tersebut membuat kebanyakan pengguna cenderung merasa tidak praktis dan lebih memilih tidak menggunakan fasilitas keamanan tambahan (misalnya password pada tampilan masuk Windows). Contoh lainnya, para pemilik laptop yang tersambung dengan jaringan internet, biasanya mereka cenderung malas untuk log out dari akun-akun mereka di internet ketika hendak  selesai menggunakan. Hal itu sangat berresiko apabila suatu saat laptop tersebut dijual atau hilang.

Namun memang untuk beberapa kepentingan, fasilitas keamanan tingkat tinggi sangat dibutuhkan, seperti halnya akses untuk masuk ke data-data kepolisian atau kedokteran. Dan ada juga yang mengabaikan keamanan dan lebih mementingkan kepraktisan dan kenyamanan, seperti situs berita atau iklan dsb.

Semua itu bergantung pada kepentingan pengguna dalam memanfaatkan fasilitas di internet, sesuai dengan tujuan dan tingkat kerahasiaan urusan yang di kerjakan. Dan kita tinggal memilih menggunakan yang seperti apa.

Sumber:

Kuliah Keamanan Jaringan Komputer & Berbagai Blog lainnya.

Antara Hacker dan Cracker

Oleh : Apul L. M. Pandiangan (Elektro UI)

 

Akun situs pertemanan atau surat elektronik kita di internet di buka oleh orang lain, bahkan isi atau informasi di dalamnya disalin, diubah atau dihilangkan tanpa sepengetahuan kita. Padahal kita tidak pernah sekalipun meninggalkan / memberikan password akun-akun kita tersebut kepada orang lain. Bagi kita yang pernah mengalami hal tersebut, tentu saja akan terasa sangat mengesalkan. Apalagi kalau  di dalamnya kita menyimpan data-data atau informasi yang sangat pribadi. Adanya pelaku-pelaku tindakan itu yang sering disebut “hacker” membuat kita berpikir dua kali untuk menyimpan informasi-informasi khusus di internet.

Menurut kamus Oxford, “hacker” diartikan sebagai pihak-pihak yang memasuki suatu sistem tertentu tanpa mendapat otorisasi dari pihak yang berwenang, dan merusak apa yang ada dalam sistem tersebut. Namun, para ahli telematika tampaknya kurang setuju dengan pengertian baku tersebut. Karena pada awalnya seseorang disebut “hacker” jika Ia memasuki suatu sistem dengan izin atau pemberitahuan pada petugas adminitrasi sistem tersebut. Dan itupun dilakukan dengan tujuan mencari dan memberitahukan kelemahan-kelemahan sistem pada petugas administrasi untuk diperbaiki.

Sedangkan pelaku perusak sistem seperti yang digambarkan pada awal tulisan, disebut “cracker” yang kalau diartikan adalah perusak atau pemecah. Dan dalam telematika, disepakati bahwa dalam dunia “hacker” terdapat etika “hacker’ yang membatasi hal-hal yang dilakukan seseorang yang masuk ke suatu sistem, adalah untuk memberitahukan pada petugas administrasi tentang kelemahan sistem.

Pada zaman yang semakin maju, kemajuan teknologi keamanan internet akan sejalan dengan semakin tingginya kemampuan penggemar telematika yang menyalahgunakan keahliannya, merusak keamanan sistem dan mencuri informasi dalam sistem untuk kepentingan sendiri. Untuk itu, beberapa saran diberikan kepada pengguna internet, seperti tidak memberikan kata kunci kepada orang lain bahkan kepada petugas administrasi sekalipun, mengganti password akun kita secara periodik, atau membuat kata kunci dari kombinasi huruf dan angka yang unik agar tidak mudah dipecahkan oleh orang-prang yang bermaksud tidak baik terhadap akun kita.

Sumber:

Kuliah Keamanan Jaringan Komputer