SCADA (Supervisory, Control, and Data Aqcuisition) pada PLN

Kali ini saya akan sedikit membahas tentang teknologi pengawasan, pengontrolan dan akuisisi data jarak jauh dan real time yaitu SCADA yang saat ini telah secara luas digunakan pada banyak industri seperti pertambangan, perkeretaapian, pabrik-pabrik dan kelistrikan termasuk distribusi listrik PLN. Sebelumnya kita mungkin telah mengenal tentang PLC (Programmable Logic Controller), DCS (Disributed Control System) mapun FCS. Namun dalam tulisan ini saya tidak akan menerangkan tentang itu semua, hanya saja penerapannya sedikit serupa dengan beberapa fitur yang berbeda.

SCADA merupakan singkatan dari Supervisory Control and Data Aqcuisition, merupakan teknologi yang menggabungkan fungsi pengawasan, pengendalian dan pemerolehan/pengambilan data jarak jauh (remote area) yang terpusat pada suatu tempat yang disebut Control Center. Pada Control Center terdapat sebuah atau beberapa Human Machine Interface (HMI) atau Man Machine Interface (MMI) berupa monitor maupun layar besar yang terdapat digram-diagram jaringan yang memperlihatkan kondisi proses di lapangan ataupun keadaan peralatan nun jauh di sana yang terintegrasi sistem SCADA. Seperti pengertian di atas, seorang dispatcher secara jarak jauh mampu melakukan perintah (Remote Control/Manuver) terhadap peralatan yang diawasi maupun mengambil data yang diperlukan dari peralatan tersebut. Seperti contohnya dalam jaringan listrik tegangan tinggi, dispatcher jika diperlukan dapat melakukan manuver menutup/membuka PMT (CB) pada suatu switchyard atau juga mengambil data besaran Voltage, Ampere maupun beban listrik di suatu jaringan secara real time.

Apakah komponen-komponen dalam SCADA yang dapat memungkinkan hal-hal tersebut di atas dapat dilakukan? Yang pertama adalah RTU atau Remote Terminal Unit. RTU merupakan sebuah alat yang diletakkan di site (remote area) yang ingin diintegrasikan dengan sistem SCADA, misalnya Switchyard, Gardu Listrik ataupun Relay Room. Di dalam RTU terdapat seperangkat CPU yang telah terprogram sehingga mampu meneruskan perintah dari Control Center ke peralatan maupun mengirimkan sinyal-sinyal alarm dan besaran-besaran (V, I, freq) dari peralatan ke Control Center. Didalam CPU tersebut terdapat perangkat seperti modem, memory (ROM) dan processor.

Yang kedua adalah media telekomunikasi, sebagai media untuk menyampaikan pesan/sinyal antara RTU dengan Control Center dan sebaliknya. Media komunikasi bisa berupa media kabel, power line carrier, serat optik maupun frekuensi radio.

Yang ketiga adalah protokol, komunikasi antara Control Center dengan RTU di remote area memanfaatkan sebuah protokol, contohnya HNZ, Indactic 33, maupun IEC 60870.

Dan yang terakhir adalah Control Center seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di atas. Di control center dispatcher mampu melakukan semua fungsi SCADA memanfaatkan perangkat-perangkat IT seperti mimic display (HMI), komputer dan server.

Jadi dari penjelasan singkat di atas, terjadi proses sistematis berupa pengawasan, pengendalian dan pengambilan data dari Control Center terhadap peralatan di lapangan yang terpasang Remote Terminal Unit melalui media telekomunikasi yang semuanya dijalankan secara automatis oleh program yang diatur dan diawasi oleh dispatcher.

Iklan

2 pemikiran pada “SCADA (Supervisory, Control, and Data Aqcuisition) pada PLN

  1. Gan, ada contoh arsitektur scada gag ?
    di PLN atau di pabrik ?

    terserah…

    kalau ada kirim via email yah ,
    trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s